1. Selamat pagi, Mata. Apa aku terlambat mengucapkannya? Pagi selalu sempurna untuk sebuah awal yang terjaga. Harapan itu, dan segala apa pun tentangmu. Dulu, ada satu keajaiban yang membangunkanku dari ruang hampa, dan kamulah orangnya. Kini, aku masih percaya, akan ada keajaiban kedua. Siapa lagi kalau bukan kamu muaranya.
2. Semesta pesonamu menggugat rinduku, ada. Melaut tanpa kendali. Permisi, aku ingin rebah di dadamu pagi ini, segera.
3. Lelap tak terjamah. Bersanding sepi, kumamah pagi bersemi sedih-tak berperi. Menyudutkan bahagiaku ke tepi.
4. Dan.. ada lirih seketika yang menampar ketermanguan. Kosong kudekap, di pagiku yang sunyi-tanpamu; dalam dekat juga jarak.
5. Terima kasih, Tuhan, untuk nikmat tidur yang Engkau berikan. Meskipun tanpa dia di dalam pelukan.
6. Pagi yang menyesakkan. Kemarin, kamu begitu mesra dalam dekapan, tapi kenapa kini justru jauhmu yang kurasakan.
7. Terpenjara dalam ingatan tentangmu. Terjaga, masihku. Terpejam, engganku. Terperi, lirihku. Pagiku pun mendekap sepi, tanpamu.
8. Dalam mimpi itu, aku kembali berlari lagi ke arahmu. Inikah sebuah pertanda? Kita masih bersama di pagi buta.
9. Sarapan apa pagi ini? sepiring memori tentangmu yang terpatri dan tak pernah basi.
10. Kepada pagi, sunyi, dan hati-mu: rindu ini kualamatkan. Berharap bisa mengelitik kebisuan dan menghasut tawa, tanpa praduga.
11. Di jemari pagi, kutilas lagi jejak itu. Merunut satu pada jalanmu. Senyatanya, bukan semu, sadarku!
12. Satu detik bermimpi tentangmu, menggurat begitu nyata; meniupkan napas keindahan di jejak pagiku.
13. Cukup dengan memikirkanmu, pagiku mengucap selamat tinggal pada basi. Selamat pagi. Jaga diri, jaga hati.
14. Maaf, aku hanya bisa menghidangkan sepiring kecupan di sudut bibirmu, pagi ini.
15. Jika esok pagi menjelang, aku inginkan kamu ada. Cukup kok, dengan satu senyuman saja.
16. Selamat pagi untukmu. Yang tak jengah melengkungkan pelangi di jelaga mataku. Dalam dekat, dalam jarak.
17. Sinyal cemas, terusik mimpi tadi malam. Rasanya, segera inginku berlari pagi ini ke arahmu dengan kecepatan tinggi!
18. Ibadah pagi. Meramu mimpi, mengeja hati. Untukmu, siapa lagi.
19. Inikah pagi? Hmm.. kenapa masih seperti kemarin? Hanya sunyi yang mengetuk keterasingan, berulang-ulang.
20. Saujana..., mata dan hati, kamu saja! Mengurung pagiku, tak jera.
21. Apakah aku terlambat? Pagi datang begitu cepat. Dan... masih saja bisumu yang kudekap.
22. Selamat pagi, peri sahajaku. Titip doa perjalanan hati yang kau tuju.
23. Selamat pagi. Semoga keindahannya meniupkan napas kegembiraan di mata juga hatimu.
24. Kepada pagi, kutimang mimpi. Seindah-indahnya, aku inginkan semesta bahagia menyelimutimu.
25. Pagiku memang tak sempurna. Ada lubang besar yang menganga di dadaku. Bukan kecewa, tapi karena ku tak kuasa melihatmu terluka.
26. Biarkan pagiku kosong. Biarkan pagi membenci dan memusuhiku, asal bukan kamu yang menyekam benci, untukku.
27. Pagi. Semestinya menjadi hari baru. Kenapa justru dejavu yang menyekatku. Sama seperti kemarin, tentangmu mengisi kalam pikiranku.
28. Dan seterusnya, aku akan menari dalam gerimis pagi, sendiri (jika kamu izinkan).
29. Geliat desah pagi yang membentur ruang hampa. Kosong menengahi laju sapa hingga tunduk pasrah tanpa selera.
30. Kucari-cari wajahmu yang terisap rindu tadi pagi. Kosong! Dan dalam kosong yang memuja sunyi, masih kuberharap rindu itu melukaiku.
31. Seperti barisan pagi kemarin, kini dan nanti, "I love the way you say good morning."
32. Semua masih tentangmu. Mimpi itu, harapan itu. Tak ada yang berubah. Setiap incinya begitu berarti. Selamat pagi.
33. Ketika cerita demi cerita hampir saja terhenti, pagi mempertemukannya kembali. Morning, you.
34. Pagi. Kepadamu aku kembali. Menghirup harum napas, dan mencium ranum rindumu.
35. Sudah berpuluh pagi ini hanya ada bilur senyummu yang merambah pada dinding dan kaca cermin. Bagaimana dengan esok? Datanglah! Jangan ragu untuk memelukku.
36. Menjadilah pagi untuk malamku. Karena terangmu, membuka mata dan hatiku.
37. Selamat pagi. Menguntip empat kata untuk langkah yang kamu tuju: jaga diri, jaga hati.
38. Untuk awal yang baru dan tanpa benih-benih kebencian, satu kecupan kutitip di keningmu.
39. Selamat pagi. Dan... aku masih setia menimang mimpi tentangmu yang belum juga datang menjelang untuk sendiriku.
40. Di lipatan pagi, aku menanti. Datanglah di pangkuanku meskipun sebatas basah embun.
41. Rasa yang tak terbiasa. Mengasingkanmu begitu jauh dari pagiku. Hanya ada sepi yang menggigit pilu.
42. Hei, kamu. Kutitipkan peluk hangat uang memanas tungku lugu menggebu. Tulus melumat pagi.
43. Di setiap pagi, terbiasaku mengecup senyum hangatmu. Di setiap pagi, harapku menguyah 1000 kebahagiaanmu.
44. Pada barisan pagi yang menguning, inginku menyusup ragamu. Senyatanya, bukan semu.
45. Memeluk pagi yang tak menua. Selalu kusematkan cinta pada teduh bening matanya.
46. Sepoting pagi, seikat rindu. Senyata matahari, senyata ketakutanku yang bergegas mengingkari hadirmu.
47. "Cinta tak selalu cukup, hanya butuh di mengerti." Demikian, kata pagi untuk sendiriku.
48. Cukup rasakan jemari kita bersentuhan. Di bibir pagi, rindu kita bertemu.
49. Menjadilah pagi untuk malamku. Terangmu yang kumau untuk gelap penantianku.
50. Duduk bersama pagi di beranda tanpa selera. Mengintip langit tanpa tanda. Kamu di mana? Kirimi aku satu kedip mata.
51. Karena pagi tak kenal bosan, maka sambutlah dengan senyuman. Selamat pagi, kamu; matahariku.
52. Pagi yang melumer di pusat jantung. Oleh harapan yang membusung, dan rindu yang berujung di garis matamu.
53. Bila tersenyum lepas pagi ini. Menasbihkan keakuan perasaanku kepadamu, lagi.
54. Menggeliat manja, rindumu. Satu tanda bahagia yang kau catatkan di lembaran pagiku yang sunyi.
55. Pagi yang mengantarkan bilur-bilur senyumanmu. Membaur bersama napas di terjagaku.
Kamis, 14 Februari 2013
Sabtu, 09 Februari 2013
Selamat Malam
1. Malam masih panjang. Memar penantianku belum juga berkesudahan. Dengan seikat maaf, kau basuh ingkar janji. Dicekat lugu penantian, aku mengamini dan tak kutakar lagi.
2. Sunyi terantuk namamu yang mengisyaratkan gelisah di batas lenaku. Mungkinkah pagi akan membawa kejutan yang menyulut bahagia baru?
3. Menjaring mimpi indah yang timbul tenggelam di batas getar yang tak juga merunut kalam batin. Jika saja ada dambaku nyata,kuingin baikmu. Itu saja!.
4. Terbangun dari mimpi dan - tiba-tiba, 'ku ingin kau ada.
5. Sayangku, mataku tak bisa terpejam, pikiranku mengelana entah ke mana. Mungkin, saat ini sedang tertuju ke arahmu di ujung dunia sana. Hanya sekedar untuk memuaskan rasa penasaran, "Mimpi apa kamu malam ini? Apakah tentangku... atau dia?"
6. Saatnya masuk ke dunia mimpi. Siapa tahu besok bisa bangun dan jatuh cinta lagi kepadamu.
7. Ketika sapa merenggut senyapmu, ku hanya ingin bahagia berderai nyata dalam tidurmu. Semoga.
8. Karena hanya mimpi yang bisa mengingkari kenyataan. Mari menguras rindu tanpa belas kasihan. Selamat malam.
9. Sekiranya cinta melukis mimpi-mimpimu. Dan bersimbah nyata di setiap embusan napasmu ketika esok menyapa.
10. Maafkan untuk kebisuanku. Hanya karena tak mauku tersilap kata bersemi amarah durja untuk kesekian kali. Baikmu kupinta dalam doa malam ini.
11. Terpenjara pikiran sendiri rebah gelisah menentang kata hati. Menanti sentuhan magisnya datang, tepikan basi. Semoga kamu mengerti.
12. Tolong sisakan sedikit senyum untukku malam ini. Biar tak dicekat resah 'ku dalam tidur lelap ini.
13. Semoga kau mendapatkan bulannya. Aku hanya ingin bermimpi saja, tentangmu.
14. Baikmu tetap kuiba, meskipun diammu telah tepikan kata-kata. Silakan tenggelam dalam lautan tidurmu.
15. Boleh pinjam bahumu, sejenak saja. Aku ingin rebah dan terlelap. Terlalu lelah, mataku terjaga untukmu sampai detik ini.
16. Semata damba, sejuta doa. Kepadamu kuiba dalam kepasrahan satu; untuk bahagia di tidur dan hatimu.
17. Masih saja 'ku terjaga. Diremas kecemasan yang menguruk sendiriku. Maukah kamu hadir di mimpiku, sejenak saja?
18. Percayalah! Aku setia menjadikanmu ratu di setiap tidurku. Selalu.
19. Cukup satu kecup saja. Meskipun hanya dalam kata dan menjelma dalam mimpi, hmmm...bahagia, nyatanya.
20.Masuklah dalam napasku, sekarang. Kita tasbikhkan barisan doa untuk damai dan keteduhan di bumi Tuhan.
21. Bersandar pada rapuh bayangmu, kucoba lewati malam ini dengan tidur tak lena. Hanya itu, bekalku.
22. Kejutan itu menamparku. Sapa manjamu pun luruh dan memagutku tiba-tiba. Membirukan malamku yang kalap didera kesendirian.
23, Rebah sujudku mengiba baikmu. Diamiini doa-doa, kuinginkan bahagia temanimu; jaukanmu dari luka yang coba mengecupmu.
24. Tidurku tak meraih sempurna. Terjaga demi sepotong tanya: "Apakah aku ada dalam mimpimu?"
25. Berharap, hanya. Rebah lena mengusung senyuman bidadari surga, semoga. Untukmu, hanya.
26. Masih kutunggu. Lugu sapamu menguap di jelaga mata. Mengantarkan magis kata untuk tidur yang kujelang.
27. Satu doa kupanjatkan. Mengiba bahagia setia mengaliri, mata airmu, dan membasuh kering air matamu.
28. Akan terus aku lakukan. Menjaring mimpi tentangmu yang sekian lama menghilang ditelan pekatnya kesendirian.
29. "Marry me...!" pintaku. Meski cuma dalam mimpi, telah cukup untuk bahagiaku malam ini.
30. Menabung sedikit senyum malam ini, siapa tahu esok hari ada bahagia datang menyapa hati.
31. Baiklah! Masih ada waktu satu jam untuk mengatakan cinta sebelum aku menikahi orang lain dalam mimpi berikutnya. Iya, dalam mimpi saja.
32. "I love the way you say good night." Tak pernah bosan, meski aku telah mendengarnya beribu kali.
33. Terbuai wajahmu yang diremas kelelahan. Bertubi-tubi kupuji dan kurayu keteduhan untuk temani tidurmu.
34. Setiap menjadikanmu ratu di setiap tidurku. Itulah janjiku kepadamu. Selalu.
35. Cukup malam ini. Beriku jalan untuk mengungsi ke negeri mimpi. Bersamamu temaniku, doaku pasti. Goodnight, you.
36. Malam. Aku sudah kehabisan akal. Tapi percayalah, cintaku kekal.
37. Sampaikan serpihan sendu yang kutancapkan dalam rindu lenamu? Abaikan bila mengusik mimpi indahmu. Tak apa.
38. Selamat malam. Selamat tidur, kamu pemilik lugu sapa, dan bening mata. Aku di dalam pelukanmu.
39. Sumbu itu terbakar. Malam yang keriput membiru lebam; oleh sapa manjamu.
40. Malam bergeming. Setia dalam wajah senjamu. Aku masih menunggu bisik lembutmu.
41. Meski malam semakin keriput tersudut sepi, sebaris sapa manjamu melumuri debar bahagiaku-tak henti.
42. Cukup rasakan jemari kita bersentuhan. Dan di satu titik rindu, bibir kita bertemu. Goodnight, you.
43. Selamat malam. Teruslah terjaga! Biar bebas kubingkai gerak manja tubuhmu di dinding ingatanku.
44. Masih tersisa separuh malam untuk mengikat mimpi. Tidurlah segera! Raihlah bintang (dan aku) di tidurmu.
45. Malam yang memilin mata, tanpa kata. Diam memuncaku takhta bisu, tanpa ragu.
46. Bacalah aku di napasmu! Bawa sertaku di tulisan mimpimu. Goodnight, you.
47. Maaf, tak bisa menyudahi mimpi bersamamu malam ini. Bebaskanku dari masam senyummu, esok pagi.
48. Malam berwangi tubuhmu. Tak kenal waktu terus menggebu melumat sedu. Aku inginkan itu; selalu.
49. Akulah benih rindu yang berguguran jaruh di hatimu. Aku ingin berteduh dan bersemi, di situ (jika kau izinkan). Dan terantuk di bbirmu kala mimpiku datang malam ini; dan esok saat terjaga.
50. Apa kabar engkau, pemilik lugu mata? Masihkah terjaga? Aku menginginkanmu di sana; di tidurku. Mendekatlah! Letakkan lelahmu di pundakku,. Kan kujaga hingga kau lelap.
2. Sunyi terantuk namamu yang mengisyaratkan gelisah di batas lenaku. Mungkinkah pagi akan membawa kejutan yang menyulut bahagia baru?
3. Menjaring mimpi indah yang timbul tenggelam di batas getar yang tak juga merunut kalam batin. Jika saja ada dambaku nyata,kuingin baikmu. Itu saja!.
4. Terbangun dari mimpi dan - tiba-tiba, 'ku ingin kau ada.
5. Sayangku, mataku tak bisa terpejam, pikiranku mengelana entah ke mana. Mungkin, saat ini sedang tertuju ke arahmu di ujung dunia sana. Hanya sekedar untuk memuaskan rasa penasaran, "Mimpi apa kamu malam ini? Apakah tentangku... atau dia?"
6. Saatnya masuk ke dunia mimpi. Siapa tahu besok bisa bangun dan jatuh cinta lagi kepadamu.
7. Ketika sapa merenggut senyapmu, ku hanya ingin bahagia berderai nyata dalam tidurmu. Semoga.
8. Karena hanya mimpi yang bisa mengingkari kenyataan. Mari menguras rindu tanpa belas kasihan. Selamat malam.
9. Sekiranya cinta melukis mimpi-mimpimu. Dan bersimbah nyata di setiap embusan napasmu ketika esok menyapa.
10. Maafkan untuk kebisuanku. Hanya karena tak mauku tersilap kata bersemi amarah durja untuk kesekian kali. Baikmu kupinta dalam doa malam ini.
11. Terpenjara pikiran sendiri rebah gelisah menentang kata hati. Menanti sentuhan magisnya datang, tepikan basi. Semoga kamu mengerti.
12. Tolong sisakan sedikit senyum untukku malam ini. Biar tak dicekat resah 'ku dalam tidur lelap ini.
13. Semoga kau mendapatkan bulannya. Aku hanya ingin bermimpi saja, tentangmu.
14. Baikmu tetap kuiba, meskipun diammu telah tepikan kata-kata. Silakan tenggelam dalam lautan tidurmu.
15. Boleh pinjam bahumu, sejenak saja. Aku ingin rebah dan terlelap. Terlalu lelah, mataku terjaga untukmu sampai detik ini.
16. Semata damba, sejuta doa. Kepadamu kuiba dalam kepasrahan satu; untuk bahagia di tidur dan hatimu.
17. Masih saja 'ku terjaga. Diremas kecemasan yang menguruk sendiriku. Maukah kamu hadir di mimpiku, sejenak saja?
18. Percayalah! Aku setia menjadikanmu ratu di setiap tidurku. Selalu.
19. Cukup satu kecup saja. Meskipun hanya dalam kata dan menjelma dalam mimpi, hmmm...bahagia, nyatanya.
20.Masuklah dalam napasku, sekarang. Kita tasbikhkan barisan doa untuk damai dan keteduhan di bumi Tuhan.
21. Bersandar pada rapuh bayangmu, kucoba lewati malam ini dengan tidur tak lena. Hanya itu, bekalku.
22. Kejutan itu menamparku. Sapa manjamu pun luruh dan memagutku tiba-tiba. Membirukan malamku yang kalap didera kesendirian.
23, Rebah sujudku mengiba baikmu. Diamiini doa-doa, kuinginkan bahagia temanimu; jaukanmu dari luka yang coba mengecupmu.
24. Tidurku tak meraih sempurna. Terjaga demi sepotong tanya: "Apakah aku ada dalam mimpimu?"
25. Berharap, hanya. Rebah lena mengusung senyuman bidadari surga, semoga. Untukmu, hanya.
26. Masih kutunggu. Lugu sapamu menguap di jelaga mata. Mengantarkan magis kata untuk tidur yang kujelang.
27. Satu doa kupanjatkan. Mengiba bahagia setia mengaliri, mata airmu, dan membasuh kering air matamu.
28. Akan terus aku lakukan. Menjaring mimpi tentangmu yang sekian lama menghilang ditelan pekatnya kesendirian.
29. "Marry me...!" pintaku. Meski cuma dalam mimpi, telah cukup untuk bahagiaku malam ini.
30. Menabung sedikit senyum malam ini, siapa tahu esok hari ada bahagia datang menyapa hati.
31. Baiklah! Masih ada waktu satu jam untuk mengatakan cinta sebelum aku menikahi orang lain dalam mimpi berikutnya. Iya, dalam mimpi saja.
32. "I love the way you say good night." Tak pernah bosan, meski aku telah mendengarnya beribu kali.
33. Terbuai wajahmu yang diremas kelelahan. Bertubi-tubi kupuji dan kurayu keteduhan untuk temani tidurmu.
34. Setiap menjadikanmu ratu di setiap tidurku. Itulah janjiku kepadamu. Selalu.
35. Cukup malam ini. Beriku jalan untuk mengungsi ke negeri mimpi. Bersamamu temaniku, doaku pasti. Goodnight, you.
36. Malam. Aku sudah kehabisan akal. Tapi percayalah, cintaku kekal.
37. Sampaikan serpihan sendu yang kutancapkan dalam rindu lenamu? Abaikan bila mengusik mimpi indahmu. Tak apa.
38. Selamat malam. Selamat tidur, kamu pemilik lugu sapa, dan bening mata. Aku di dalam pelukanmu.
39. Sumbu itu terbakar. Malam yang keriput membiru lebam; oleh sapa manjamu.
40. Malam bergeming. Setia dalam wajah senjamu. Aku masih menunggu bisik lembutmu.
41. Meski malam semakin keriput tersudut sepi, sebaris sapa manjamu melumuri debar bahagiaku-tak henti.
42. Cukup rasakan jemari kita bersentuhan. Dan di satu titik rindu, bibir kita bertemu. Goodnight, you.
43. Selamat malam. Teruslah terjaga! Biar bebas kubingkai gerak manja tubuhmu di dinding ingatanku.
44. Masih tersisa separuh malam untuk mengikat mimpi. Tidurlah segera! Raihlah bintang (dan aku) di tidurmu.
45. Malam yang memilin mata, tanpa kata. Diam memuncaku takhta bisu, tanpa ragu.
46. Bacalah aku di napasmu! Bawa sertaku di tulisan mimpimu. Goodnight, you.
47. Maaf, tak bisa menyudahi mimpi bersamamu malam ini. Bebaskanku dari masam senyummu, esok pagi.
48. Malam berwangi tubuhmu. Tak kenal waktu terus menggebu melumat sedu. Aku inginkan itu; selalu.
49. Akulah benih rindu yang berguguran jaruh di hatimu. Aku ingin berteduh dan bersemi, di situ (jika kau izinkan). Dan terantuk di bbirmu kala mimpiku datang malam ini; dan esok saat terjaga.
50. Apa kabar engkau, pemilik lugu mata? Masihkah terjaga? Aku menginginkanmu di sana; di tidurku. Mendekatlah! Letakkan lelahmu di pundakku,. Kan kujaga hingga kau lelap.
Rabu, 06 Februari 2013
Ya Beginilah Rindu Kubakukan
1. Rindu adalah perjalanan tertunda, terentang sebagai kesatuan harapan dan keterpisahan. Di matamu, ingin kuberhenti. Seketika? Bukan. Rindu bermula dari serpih getar untuk saling berharap: kita bertemu di satu titik penyatuan. Semuanya tertulis jelas di air mukaku; rindu ini mengurai segala tentangmu. Kapan pun, di mana pun, kamu memenuhi detikku.
2. Kamu adalah baris pertama dari setiap alinea yang di dalamnya selalu menyebut kata 'rindu'.
3. Sepertinya, jarak membuat rindu jadi makin berarti.
4. Kadang, cuma butuh satu helaan napas panjang buat menyudahi penat hari ini sambil membayangkan sepotong senyumanmu.
5. Lelah, akhirnya. Hanya ada getar lemah yang tersiksa. Seterusnya adalah kata-kata tak juga berwujud sapa. Aku akan menerima, jika ini memang rindu tak bersambut nyata.
6. Sungguh beruntung! Ada kamu yang menghadirkan sepotong sapa dan sekelebat senyum dalam jarak. Menemaniku dalam diam, dan... dalam damba tak bersyarat.
7. Mendengar renyah sapamu dalam ruang dan jarak yang menyekat tatap, telah cukup untuk menepikan lelahku.
8. Meski hanya menempias pada getar lemah belaka, setidaknya aku percaya: masih ada kepingan rindu yang kujaga, untukmu-bukan siapa-siapa.
9. Rindu itu kamu. Rindu itu sunyi. Cuma kamu yang bisa meramaikannya. Rindu itu api. Cuma kamu yang bisa memadamkannya. Rinduku semena-mena. Begitu terantuk di matamu, tak mau lari ke mana-mana. Rinduku itu haus dan lapar. Cuma sentuhan bibirmu yang bisa memuaskannya.
10. Ditengah keramaian, aku merasa sepi. Tapi aku tak kedinginan; senyumanmu senantiasa menyala dalam diriku. Menghangatkanku dengan rindu.
11. Menjadikanmu selalu ada dan tetap dekat meskipun hanya jauhmu yang kurengkuh.
12. Tak jera! Kugelitik kenanganmu untuk bangkit lagi dari bejananya. Dan tiba-tiba, memenuhi ruang pengharapanmu.
13. Dalam rentang jarak, hanya hati kita yang masih bisa saling menyapa, saling mendoakan, "Aku selalu merindukanmu, sayangku," bisik hatiku lirih padamu, "semoga kamu pun begitu."
14. Jauhmu menghasut kata untuk bercerita tentangmu. Tapi mengapa justru bisu yang menutup mulutku. Kelu hingga tak mampu aku menyapamu.
15. Jarak terkadang lebih indah karena ada jeda dan memberi ruang rindu yang luas bagi hadir sang cinta nanti.
16. Membayangkannya saja membuat hadir jadi lebih terasa. Saat ini, biarlah cukup begini. Sampai nanti bertemu lagi.
17. Untuk apa membenci rasa yang membuncah. Tak peduli merindu atau sebaliknya, telan dan nikmati saja.
18. MAAF! Maaf jika aku tak di sana ketika kamu gelisah. Maaf jika aku tak punya kendali atas waktu dan jarak. Maaf untuk semua gelisah yang kau rasakan. Maaf karena diam-diam aku yang egois ini senang saat rindumu hanya untukku seorang.
19. Bercermin untuk kesekian kali. Bertanya pada bayangan diri yang makin rapuh. Berjalanku menjau, tapi kenapa justru dekatmu yang kurengkuh.
20. Dua hari berlalu. Kebisuan menjadi mahkota tanpa kemewahan yang memburamkan warna-warni rindu.
21. Untuk setiap diammu yang hadir, aku reka membayarnya dengan gelisah yang meluapkan sunyi bertubi-tubi. Hanya karena aku peduli.
22. Yang tersisa, mungkin hanya rindu yang mengulum waras logika. Ada padamu, kunanti sekaligus kubenci.
23. Masihku di sini - sendiri. Menurut bilur-bilur rindu yang tertinggal. Ada padamu, pasti! Dan kuingkari.
24. Aku akan menghirup rindu lewat embusan napasmu dari kejauhan, hingga kupeluk hadirmu dalam dekat... dan satu dalam lekat.
25. Rindu kesumat. Merajalela di batas angkuh yang mengunci bibir untuk bertanya tentangmu. Apakah kau mencecap rasa yang sama? Andai saja.
26. Bahkan, dalam pekatnya malam, larik-larik senyumanmu menjelma lukisan terang yang memenuhi bejana kegelisahanku. Bagaimana mungkin aku mampu beranjak pergi?
27. Sapamu di telepon menjadi kejutan yang taj terduga-duga. Dan sepanjang sisa hari ini, hidupku jadi berjudul 'bahagia'.
28. Nyata atau semu, tak mau ku tahu. Aku hanya ingin menikmati syahdunya rindu menguras warasku, malam ini. Itu saja!.
29. Meredam kata-kata. Kusapih rindu untuk sementara. Mengendapkannya dalam diam, menunggu perjumpaan merunut nyata. Lalu, mmenumpahkannya tanpa sisa.
30. Bertahan dalam diam. Membiarkan rindu memungut indah dalam kesakitannya. Aku rela.
31. Lebih karena mencintai adalah karunia, aku pun memutuskan untuk tidak mengacuhkan seribu tanya mengapa kemudian memilihmu. Toh tak ada jawaban yang tepat untuk setiap langkah kakiku yang merindu pulang menuju dirimu. Juga tak ada alasan yang pasti mengapa aku selalu ingin rebah manja di dadamu. Sudah lama aku berhenti bertanya, berhenti menjawab. Karena semua itu hanya akan membuatku meragu.
32. Rindu yang tertanam, bukan pura-pura. Tinggal tunggu waktu saja meluapkannya tanpa sisa, di dekatmu.
33. Entah sudah berapa ratus titik di pipimu yang kucium; mengeratkan rindu dan kenangan dalam kemegahan perasaan. Lekang!
34. Di sini, aku melibas rindu yang kau tinggalkan. Dalam debar hasrat yang yang putus-putus menyebut namamu.
35. Rindu ini telah menyangderaku. Menjadikanku tahanan di taman cinta.
36. Rindu dan kamu itu seperti angin. Tak bisa kulihat, tapi kurasakan kehangatan juga kegelisahannya.
37. Bersandar pada rapuhnya kesendirian. Menilas lagi kepak sayap menjamu yang membatu dalam cetak biru kenangan. Aku rindu, sialan.
38. Kutitipkan kecup manja di sudut pipimu. Cuma itu yang kumampu.
39. Semestinya kupecahkan saja rindu ini dengan kepala tengadah. Membuncahkannya di beranda hatimu, tanpa malu-malu.
40. Membunuh rindu jelas bukan pilihan. Sama saja memutuskan jembatan menuju kebahagiaan bersamamu.
41. Hari ini kudengar dari bibirmu. Menaklukkanku dengan cinta yang denyutnya mendayu-dayu.
42. Tolong datang padaku. Selimuti aku dengan baju pengharapanmu. Rinduku telah begitu panjang.
43. Luka rindu ini mulai memanen kesakitan di setiap incinya.
44. Menjaring rindu. Satu-satunya jalan yang kupilih untuk tetap bersamamu. Dalam dekat, juga jarak.
45. Lagi. Ketika dia, menegahi langit, ketika kosong hati meliat raga dan pikiran, rindu itu menggugat lagi.
46. Rindu itu mendingin es dan memanas api. Silih berganti, mempermainkanku.
47. Karena kata hanya perantara, tak bisa seutuhnya. Biarkan rasa yang bicara dari kedalamannya, detik ini. Masih. Rindu ini, untukmu.
48. Biarkan rasa menjadi tuan di negeri sendiri. Menjadikanmu rindu di setiap pahatan tanahnya.
49. Tertusuk rindu. Dadaku tersendat. Terengah merapal namamu. Menghela bisu.
50. Cukup rasakan hadirnya, di mana pun kamu berada. Mendekap jauhmu dalam dekat.
51. Ada yang hilang. Sejauh berlari, muara pikiran tak juga menjauh. Mengisap rindu seperti lintah. Haus terpuaskan ketika berdarah.
52. Déjà vu. Setiap kali kusesap cawan rasamu. Manis pahit dalam satu rindu.
53. Teringkus hampa. Kupilah pongah yang mengikut-serta dalam larik-larik rinduku. Maafkan, ini salahku.
54. Labirin hatimu selalu membawaku kembali ke tempat saat kita bermula; jatuh cinta.
55. Sapamu itu masih membungkam seribu. Tak berkutik, tersudutku ke tepi duniamu. Mengapa jarak yang kau bentangkan begitu jauh. Bahkan untuk menyentuh jari manismu saja aku kelelahan.
56. Setiap kata yang tertulis, terasa melempuhkan jemari. Beban rindu itu memanas api dan membakar keangkuhan.
57. Aku telah jatuh menelan rindu ini. Terlalu sakit, memang. Tapi aku tak jera untuk terus berada dalam jerat kesakitan ini.
58. Tanpa awal dan akhiran: rindu ini, milikmu saja.
59. Aku bersyukur kehilangan. Menancapkan arti hadirmu lebih berarti. Dan rinduku pun kian tak terperi.
60. Bahkan pada gerimis aku mengemis: "Teruslah menangis! Derai air matamu menyulam luka rinduku.
61. Terasing di negerimu. Aku! Terosok dalam puing rindumu. Aku! Janganlah beku! Sekian sentimeter lagi jemari kita tinggal menunggu waktu untuk saling menggenggam rasa itu. Janganlah ragu! Rindu ini masih, milikmu.
62. Bergetar membayangkan. Bertemu? Aku tak punya kendali mengatakannya. Hanya ada api rindu, selebihnya udara beku.
63. Kau tahu apa yang aku cium sekarang? Kerinduan. Kau tahu apa yang aku inginkan sekarang? Menunggu hadirmu. Membayangkannya saja sudah membuat jantungku berdegub kencang. Seperti ada sejuta genderang ditabuh dalam diriku. Ingar-bingar suaranya, semuanya menyerukan namamu. Jadi, jujurlah padaku sekali ini, Sayang; kapan kau akan datang?
64. Belum selesai juga aku membacamu. Membolak-balik halaman tentang rahasia-rahasia yang kau bisikkan padaku di malam itu, juga lelucon-lelucon konyol dalam cengkrama kita. Belum puas aku membacamu. Tak ingin aku menemukan kata 'tamat' di akhir buku tentangmu. Kau kubaca lagi; kali ini dengan rindu.
2. Kamu adalah baris pertama dari setiap alinea yang di dalamnya selalu menyebut kata 'rindu'.
3. Sepertinya, jarak membuat rindu jadi makin berarti.
4. Kadang, cuma butuh satu helaan napas panjang buat menyudahi penat hari ini sambil membayangkan sepotong senyumanmu.
5. Lelah, akhirnya. Hanya ada getar lemah yang tersiksa. Seterusnya adalah kata-kata tak juga berwujud sapa. Aku akan menerima, jika ini memang rindu tak bersambut nyata.
6. Sungguh beruntung! Ada kamu yang menghadirkan sepotong sapa dan sekelebat senyum dalam jarak. Menemaniku dalam diam, dan... dalam damba tak bersyarat.
7. Mendengar renyah sapamu dalam ruang dan jarak yang menyekat tatap, telah cukup untuk menepikan lelahku.
8. Meski hanya menempias pada getar lemah belaka, setidaknya aku percaya: masih ada kepingan rindu yang kujaga, untukmu-bukan siapa-siapa.
9. Rindu itu kamu. Rindu itu sunyi. Cuma kamu yang bisa meramaikannya. Rindu itu api. Cuma kamu yang bisa memadamkannya. Rinduku semena-mena. Begitu terantuk di matamu, tak mau lari ke mana-mana. Rinduku itu haus dan lapar. Cuma sentuhan bibirmu yang bisa memuaskannya.
10. Ditengah keramaian, aku merasa sepi. Tapi aku tak kedinginan; senyumanmu senantiasa menyala dalam diriku. Menghangatkanku dengan rindu.
11. Menjadikanmu selalu ada dan tetap dekat meskipun hanya jauhmu yang kurengkuh.
12. Tak jera! Kugelitik kenanganmu untuk bangkit lagi dari bejananya. Dan tiba-tiba, memenuhi ruang pengharapanmu.
13. Dalam rentang jarak, hanya hati kita yang masih bisa saling menyapa, saling mendoakan, "Aku selalu merindukanmu, sayangku," bisik hatiku lirih padamu, "semoga kamu pun begitu."
14. Jauhmu menghasut kata untuk bercerita tentangmu. Tapi mengapa justru bisu yang menutup mulutku. Kelu hingga tak mampu aku menyapamu.
15. Jarak terkadang lebih indah karena ada jeda dan memberi ruang rindu yang luas bagi hadir sang cinta nanti.
16. Membayangkannya saja membuat hadir jadi lebih terasa. Saat ini, biarlah cukup begini. Sampai nanti bertemu lagi.
17. Untuk apa membenci rasa yang membuncah. Tak peduli merindu atau sebaliknya, telan dan nikmati saja.
18. MAAF! Maaf jika aku tak di sana ketika kamu gelisah. Maaf jika aku tak punya kendali atas waktu dan jarak. Maaf untuk semua gelisah yang kau rasakan. Maaf karena diam-diam aku yang egois ini senang saat rindumu hanya untukku seorang.
19. Bercermin untuk kesekian kali. Bertanya pada bayangan diri yang makin rapuh. Berjalanku menjau, tapi kenapa justru dekatmu yang kurengkuh.
20. Dua hari berlalu. Kebisuan menjadi mahkota tanpa kemewahan yang memburamkan warna-warni rindu.
21. Untuk setiap diammu yang hadir, aku reka membayarnya dengan gelisah yang meluapkan sunyi bertubi-tubi. Hanya karena aku peduli.
22. Yang tersisa, mungkin hanya rindu yang mengulum waras logika. Ada padamu, kunanti sekaligus kubenci.
23. Masihku di sini - sendiri. Menurut bilur-bilur rindu yang tertinggal. Ada padamu, pasti! Dan kuingkari.
24. Aku akan menghirup rindu lewat embusan napasmu dari kejauhan, hingga kupeluk hadirmu dalam dekat... dan satu dalam lekat.
25. Rindu kesumat. Merajalela di batas angkuh yang mengunci bibir untuk bertanya tentangmu. Apakah kau mencecap rasa yang sama? Andai saja.
26. Bahkan, dalam pekatnya malam, larik-larik senyumanmu menjelma lukisan terang yang memenuhi bejana kegelisahanku. Bagaimana mungkin aku mampu beranjak pergi?
27. Sapamu di telepon menjadi kejutan yang taj terduga-duga. Dan sepanjang sisa hari ini, hidupku jadi berjudul 'bahagia'.
28. Nyata atau semu, tak mau ku tahu. Aku hanya ingin menikmati syahdunya rindu menguras warasku, malam ini. Itu saja!.
29. Meredam kata-kata. Kusapih rindu untuk sementara. Mengendapkannya dalam diam, menunggu perjumpaan merunut nyata. Lalu, mmenumpahkannya tanpa sisa.
30. Bertahan dalam diam. Membiarkan rindu memungut indah dalam kesakitannya. Aku rela.
31. Lebih karena mencintai adalah karunia, aku pun memutuskan untuk tidak mengacuhkan seribu tanya mengapa kemudian memilihmu. Toh tak ada jawaban yang tepat untuk setiap langkah kakiku yang merindu pulang menuju dirimu. Juga tak ada alasan yang pasti mengapa aku selalu ingin rebah manja di dadamu. Sudah lama aku berhenti bertanya, berhenti menjawab. Karena semua itu hanya akan membuatku meragu.
32. Rindu yang tertanam, bukan pura-pura. Tinggal tunggu waktu saja meluapkannya tanpa sisa, di dekatmu.
33. Entah sudah berapa ratus titik di pipimu yang kucium; mengeratkan rindu dan kenangan dalam kemegahan perasaan. Lekang!
34. Di sini, aku melibas rindu yang kau tinggalkan. Dalam debar hasrat yang yang putus-putus menyebut namamu.
35. Rindu ini telah menyangderaku. Menjadikanku tahanan di taman cinta.
36. Rindu dan kamu itu seperti angin. Tak bisa kulihat, tapi kurasakan kehangatan juga kegelisahannya.
37. Bersandar pada rapuhnya kesendirian. Menilas lagi kepak sayap menjamu yang membatu dalam cetak biru kenangan. Aku rindu, sialan.
38. Kutitipkan kecup manja di sudut pipimu. Cuma itu yang kumampu.
39. Semestinya kupecahkan saja rindu ini dengan kepala tengadah. Membuncahkannya di beranda hatimu, tanpa malu-malu.
40. Membunuh rindu jelas bukan pilihan. Sama saja memutuskan jembatan menuju kebahagiaan bersamamu.
41. Hari ini kudengar dari bibirmu. Menaklukkanku dengan cinta yang denyutnya mendayu-dayu.
42. Tolong datang padaku. Selimuti aku dengan baju pengharapanmu. Rinduku telah begitu panjang.
43. Luka rindu ini mulai memanen kesakitan di setiap incinya.
44. Menjaring rindu. Satu-satunya jalan yang kupilih untuk tetap bersamamu. Dalam dekat, juga jarak.
45. Lagi. Ketika dia, menegahi langit, ketika kosong hati meliat raga dan pikiran, rindu itu menggugat lagi.
46. Rindu itu mendingin es dan memanas api. Silih berganti, mempermainkanku.
47. Karena kata hanya perantara, tak bisa seutuhnya. Biarkan rasa yang bicara dari kedalamannya, detik ini. Masih. Rindu ini, untukmu.
48. Biarkan rasa menjadi tuan di negeri sendiri. Menjadikanmu rindu di setiap pahatan tanahnya.
49. Tertusuk rindu. Dadaku tersendat. Terengah merapal namamu. Menghela bisu.
50. Cukup rasakan hadirnya, di mana pun kamu berada. Mendekap jauhmu dalam dekat.
51. Ada yang hilang. Sejauh berlari, muara pikiran tak juga menjauh. Mengisap rindu seperti lintah. Haus terpuaskan ketika berdarah.
52. Déjà vu. Setiap kali kusesap cawan rasamu. Manis pahit dalam satu rindu.
53. Teringkus hampa. Kupilah pongah yang mengikut-serta dalam larik-larik rinduku. Maafkan, ini salahku.
54. Labirin hatimu selalu membawaku kembali ke tempat saat kita bermula; jatuh cinta.
55. Sapamu itu masih membungkam seribu. Tak berkutik, tersudutku ke tepi duniamu. Mengapa jarak yang kau bentangkan begitu jauh. Bahkan untuk menyentuh jari manismu saja aku kelelahan.
56. Setiap kata yang tertulis, terasa melempuhkan jemari. Beban rindu itu memanas api dan membakar keangkuhan.
57. Aku telah jatuh menelan rindu ini. Terlalu sakit, memang. Tapi aku tak jera untuk terus berada dalam jerat kesakitan ini.
58. Tanpa awal dan akhiran: rindu ini, milikmu saja.
59. Aku bersyukur kehilangan. Menancapkan arti hadirmu lebih berarti. Dan rinduku pun kian tak terperi.
60. Bahkan pada gerimis aku mengemis: "Teruslah menangis! Derai air matamu menyulam luka rinduku.
61. Terasing di negerimu. Aku! Terosok dalam puing rindumu. Aku! Janganlah beku! Sekian sentimeter lagi jemari kita tinggal menunggu waktu untuk saling menggenggam rasa itu. Janganlah ragu! Rindu ini masih, milikmu.
62. Bergetar membayangkan. Bertemu? Aku tak punya kendali mengatakannya. Hanya ada api rindu, selebihnya udara beku.
63. Kau tahu apa yang aku cium sekarang? Kerinduan. Kau tahu apa yang aku inginkan sekarang? Menunggu hadirmu. Membayangkannya saja sudah membuat jantungku berdegub kencang. Seperti ada sejuta genderang ditabuh dalam diriku. Ingar-bingar suaranya, semuanya menyerukan namamu. Jadi, jujurlah padaku sekali ini, Sayang; kapan kau akan datang?
64. Belum selesai juga aku membacamu. Membolak-balik halaman tentang rahasia-rahasia yang kau bisikkan padaku di malam itu, juga lelucon-lelucon konyol dalam cengkrama kita. Belum puas aku membacamu. Tak ingin aku menemukan kata 'tamat' di akhir buku tentangmu. Kau kubaca lagi; kali ini dengan rindu.
Selasa, 05 Februari 2013
Dear You, Iya Kamu
1. Cinta memang sederhana. Tapi aku memilih luar biasa memaknai jatuhnya; jatuh cinta kepadamu.
2. Aku tak ingin merasa paling benar mencintaimu. Aku hanya ingin mencintaimu dengan benar, dan cintamu benar untukku.
3. Aku mencintaimu bukan dalam terang siang. Aku mencintaimu dalam kegelapan; dengan hati sebagai mataku.
4. Masuklah dalam badai. Setidaknya kita bersama dalam cinta meskipun masih belum teraba.
5. Entah sebagai awal atau akhir, aku tetap menginginkanmu sebagai tokoh utama dari setiap inci cerita bahagia dan sedihku.
6. Ini yang tertulis di hatiku: aku mencintaimu. Titik, [tanpa koma]
7. Telah kubuka hati untuk mengecap manis-pahit rasamu. Aku bahkan rela menelannya mentah-mentah dalam kesakitanku.
8. Aku ingin mencintaimu tanpa batas waktu. Tidak kini, dulu, apalagi nanti. Aku ingin mencintaimu saja untuk selamanya.
9. Ini sudah benar dari awal. Aku mencintaimu tanpa tanda tanya.
10. Aku tak berharap menjadi Superhero. Aku hanya ingin mencoba semampunya menjadi hero biasa, di hatimu. Someday, someway and somehow.
11. Cinta adalah keberanian. Dan maaf, aku belum mampu mewujudkannya.
12. Sia-sia saja! Makin kutepikan bayangmu, makin terjerat aku dalam kenangan tentangmu.
13. "I love you." Aku tak ingin ungkapan itu menjadi kamus mati. Aku ingin mengejawantahkannya menjadi berarti, dan berhati.
14. Jangan tanyakan padaku seberapa kuat tanganku memeluk bahumu. Cukup rasakan saja ketulusannya mendekap hatimu.
15. Kau selalu menggoda pikiranku untuk bicara cinta. Bibirku mengeja kata-kata uang mengumpul menjadi cerita. Cerita tentangmu saja
16. Pilihan tetaplah sebuah pilihan. Jalani dengan semestinya, tanpa rekayasa. Demimu aku mampu: menjadikanmu yang terindah, meski penyatuan belum terjamah
17. Ada dan tiada-bagimu, rasa itu tetap kujaga. Tersimpan rapi dalam bejana pengharapan. Di suatu masa, siapa tahu, akan hadir kesempatan kedua bagi cinta kita.
18. Membuka hati hanya untuk belajar terluka lagi? Itu bukan inginku. Membuka hati untuk belajar mencintaimu lagi? Itu harapan terbesarku.
19. Tak perlulah kita mendefisinikan bahagia. Pijar senyuman di bibirmu sudah lebih cukup untuk menggantikannya.
20. JANJI. Menyediakan hati untuk jadi jembatan kata-kata di setiap jejaknya. Dan kamu adalah muaranya.
21. Tak mengertikah kau, sejauh mana pun mendayung dan bersembunyi di balik bayang ombak, arus cinta selalu membuatku kembali terdampar di pulau hatimu...
22. Masih..... setiap kali sunyi mematuk sendiri, kamu pun hadir tanpa permisi. Masiih selalu begitu.
23. Ada dan tiada bagimu, aku hanya ingin hadir ditimang pengakuanmu. Itu saja! Sejenak juga tak apa.
24. Semoga aku bukan termasuk orang serakah jika selalu berharap kau di dekat hatiku, kapan pun itu.
25. Seperti masuk dalam labirin, setiap kali kucoba mengurai segala tentangmu, Sesatku di persimpangan jalan. Menunggumu dalam ketidakpastian.
26. Bukan cinta yang memisahkan, tapi kita yang membuatnya terjadi. Bukan cinta yang melukai, kita yang membuatnya terjadi sedemikian rupa. Dan, semoga kita tak pernah berpikir untuk melakukannya.
27. Jauh menghujam. Sapa manjamu menggelitik getar itu kesumat lagi, tanpa rekayasa. Karena kaulah alasanku. Rasanya mustahil aku bisa pergi dan tepikan adamu.
28. Dalam labirin hatimu, aku masih kukuh berdiri. Menanti! Pergi atau... setia bernaung dalam mata beningmu?!
29. Percuma, bergeming pun tidak. Lelah 'ku kini melampaui batas logika, tapi tetap saja sia-sia. Kau selalu di sini. Di hatiku. Menggerogoti kalbu dengan rindu.
30. Tak surut. Terpaku getarku di tempat yang sama. Tetap ada menguji kata setia, dan tepikan tiada dalam keakuannya.
31. Ada dan tiada, bagimu... kamu tetap ada, bagiku. Maka, untuk apa ingkar jika penantianku masih bertekuk pada lipatan sunyi yang mencatut namamu, satu-satunya.
32. Kau selalu kunanti, meski tiada hadirmu disini, di pelukku. Meski aku hanya bisa memuaskan dahaga rinduku dengan memori tentang dirimu. Datanglah...., datanglah segera ke peraduan cinta kita.
33. Tak ada yang hilang sedikit pun. Meski berulang aku dicekat ragu yang merenggut kuasa hatiku; untuk mendambamu dan mencintaimu-lagi.
34. Terima kasih telah masuk ke dalam pintuku. Bukannya aku ingin menguncimu, tapi... bisakah kamu tinggal selamanya?
35. Sudah sepantasnya kita berbahagia. Harapan dan mimpi kita kini menjadi nyata akhirnya. Kau dan aku bersatu..., saling memiliki dalam cinta.
36. Beruntung bisa berharga di matamu.
37. Aku tulis kata pertama dengan huruf "C". Lalu, hening. Percayalah! Dan aku mengeja lagi namamu. Di huruf "I", jemariku berhenti. Dalam keheningan itu, kucatut lagi tiga huruf tersisa dari namanu: CINTA.
38. Jika bahagia ini nyata, percayalah... semuanya kupersembahkan untukmu seorang. Bagaimana pun juga, aku mendapatkannya juga karenamu.
40. Hatiku semata wayang telah kuserahkan dan kupasrahkan kepadamu. Menjadikannya jembatan tawa dan airmata. Bagaimana mungkin aku menyudahinya (?!)
41. Sesakit apa pun, aku tetap ingin menjadi jembatan dan tiang tanpa sebab, untukmu. Karena hatiku telah kurelakan sejak keakuan hati terpatri.
42. Sungguh mengagumkan kemiripan antara cinta dan kegilaan. Dua-duanya serba tak terduga. I Miss You Like Crazy, itu nyatanya.
43.Berbahagia dan bersedih dalam luka. Silih berganti, menjamu dan merayakannya. Jika karenamu, aku rela.
44. Selama kamu bahagia, teruslah berpegang pada alasan yang kamu yakini, dan cara yang kamu pilih. Aku tak akan menggugat lagi. Sebab aku mencintaimu, biar kutanggung segala akibatnya.
45. Mampukah aku beranjak pergi, dengan semua tentangmu pelan-pelan membatu dan memberatkan langkahku? Padahal aku tak bisa berlama-lama ada disini. Padahal kau juga sudah lama tak ada di sini.
46. Sedang berharap kamu datang tiba-tiba dan berjanji:"Aku selalu siap menjadi pengantin hatimu, kapan pun itu!" Oh, semoga ini bukan mimpi.
47. Kau alasan gundah dan resah ini ada.
48. Berlariku ke arahmu, mungkin tidak saat ini. Tapi berjalanku tertatih menimang hatimu, yakinku itu pasti.
49. Aku masih berdiri di jalan yang sama. MENANTIMU dengan napas terengah dan gontai kaki menjejak tanah hatimu.
50. BERSAMAMU. Kupuji hari karena setiap cerita begitu berarti. SENDIRIKU. Tanpa warna-warni, hari silih berganti mengecup basi.
51. KAMU... sedetik menjauh, sedetik mendekat. Pergi, lalu kembali lagi. Sebentar ada, sekelebat tiada. kau seperti pusaran tanya yang tak kunjung berhenti.
52. Dear You, aku takkan ke mana. Pada satu langkahmu juga, menujuku.
53. Tak peduli apakah ini cinta atau bukan. Aku hanya ingin menikmati luka-bahagia ini. Merangkumnya dalam keindahan, inci demi inci.
54. Maaf, jika rasaku bugil bulat. Biar kamu tahu, hatiku telah kubuka tanpa sia untukmu, tak ada kedua.
55. Saudara-saudara! Kalau aku cuma berpura-pura, sudah sejak pertama aku tanggalkan baju berperisai CINTA ini.
56. Harapan itulah yang tak gentar, bertahan terus mengeja rindu. Tanpa henti setia pada tuannya: Sang Cinta.
57. Karena kamu adalah kebahagiaanku. Karena kamu adalah kegelisahanku. Sanggupkah aku pergi? untukmu, kuasah luka. Kepadamu, kuasuh bahagia.
58. Mungkin saja ini salah dan bodoh. Tapi aku akan melakukannya berkali-kali tanpa jemu. Aku akan selalu jatuh cinta kepadamu.
59. Bahkan, aku tak butuh menjadi siapa-siapa untuk cinta. Aku cukup ada untukmu, saja.
60. Sekedar bertamu jelas bukan inginku. Memiliki hatimu, itu harapan terbesarku.
61. Bahkan, nalar pun hilang kata. Keakuan perasaan ini terlanjur merindang daun. Tetap terjaga mencari kebenarannya.
62. Kita hanya berhenti sejenak, meresapi senyuman dan kenangan yang kita punya di sepanjang perjalanan selama ini.
63. Keindahan melengkung pada garis kesendirianku. Tersenyum sendiri, membaca setiap tanda cinta yang kau tinggalkan.
64. Begitu telaknya kejutan itu menusukku, hingga kuhilang kata-kata. Kepadamu, bahagia ini kualamatkan.
65. Perjalananku dimulai dari sebuah asa. Dan di langkahmu rasa itu tumbuh membumi dan membatu.
66. Berulang kali kubunuh rasa ini, aku tak bisa ke mana, ternyata! Maka percayakan saja kepada sang waktu, kita tetaplah satu. Karena cinta selalu ada.
67. Untuk alasan apa pun, kau tetaplah bahagia yang bertuah.
69.Kamulah alasan pencarianku. Di setiap entakan napas, ziarah rinduku menasbihkan keakuan perasaan, untukmu. Abadi!
70. Bajaklah pikiranku. Di tiap lajurnya akan kau temukan barisan kata itu: AKU MILIKMU!
71. Kau adalah kata tunggal. Di lipatan hatimu, rindu kubakukan. Tercetak dengan huruf tebal.
72. Katakan padaku, apakah aku ada di sana; terselip di dalam hatimu? Katakan iya, Manisku, supaya berhenti aku menanti.
73. Bahkan lebih dari selamanya, kasihmu berserah waktu. Aku berdoa, semoga kamu menjadi ibu dari anak-anakku.
74. Aku tak butuh terbang jauh menjemputmu. Selama ini ternyata kau tinggal begitu dekat. Tinggal di kavling istimewa-dalam hatiku saja.
75. Sebut saja aku hilang kewarasan. Bisa bertekuk lutut di hadapan hatimu satu-satunya, itu sakit yang membahagiakan.
76. Jika memegang hatimu adalah tumpah bahagia, maka memanggang luka tak perlu dan tak usah dihiraukan.
77. Menjemput impian. Keniscayaan untuk bersamamu adalah harapan dan pencampaian terbesar.
78. Aku percaya, mencintaimu adalah pilihan dari setiap hidup yang kuyakini. Meski barisan waktu menjepitku dalam penantian tak bertepi.
79. Dari awalnya hingga cinta bersimpuh pada keakuan hati, keyakinan itu ada: kau seperti yang terbaca. Dan di setiap abjadmu, kucetak bahagia.
80. Di cintamu, semua rasa meletup jadi satu. Seirama mengukir hari yang sepi, dan detik yang ramai dalam bahagia yang tak usai. I love you.
81. Bersamamu yang kumau. Menghisap senyum juga rasamu. Bersatu kita, tanpa wagu. Tahu-tahu, itu saja!
82. Untuk apa jauh-jauh lagi mencari, sementara dalam dirimu saja aku sudah menemukan alasan hidup: bahagia bersamamu.
83. Kalau cuman main-main, untuk apa aku proklamirkan cinta dan rela terbakar bersamanya.
84. Aku memang picisan. Tapi peduli apa karena kamulah satus-satunya alasan yang butuh kukatakan.
85. Aku mendamba sebuah dunia baru. Dibangun di antara mimpi dan kenyataan.Ada kita di sana, berdiri berdampingan. Bergenggaman tangan, seiya dan sekata.
86. Terima kasih setulusnya; untuk setiap helai waktu yang telah kau renggut demi pengembaraan cinta ini.
87. Kita bertemu tanpa rekayasa. Lalu berdiri di garis yang sama dengan bekal rindu dan cinta, tanpa rekayasa. Semoga, demikian.
88. Tak mungkin hilang, jejak yang tercetak dalam kebersamaan. Tak peduli penyatuan masih menyisakan tanya pada detak kemudian. Tetap saja-lekang!
89. Termenung 'ku dalam buaian lamun. Terlalu dalam cinta menusuk jantungku. Membawa bahagia serta luka. Terkaparku mengulum segalamu. Nyata, bukan semunya imaji.
90. Mulai hari ini, aku akan tinggal di rumah hatimu. Berharap akan ada di sana hingga seterusnya-jika kamu mengizinkan.
Langganan:
Postingan (Atom)